Jejak Sarira dan Mantra Cinta

Saat buih menepuk pesisir, dan halus rambutmu tersapu angin pantai Marina, kuterbangkan doa-doa ke langit utara menemui bintang biduk mengetuk surga.

Lahu,
Di senja yang merah
Orang-orang menutup pintu membuka jendela, menyalakan dupa-dupa
Sebagian terpekur di sajadah
Dengan rona penuh durja
Satu nama telah hilang di barisan silsilah
Menanggalkan jubah, menafkahi isi kepalanya di negeri empat musim
Meski di sudut hatinya luka bermukim

Lahu,
Di negeri Batara Guru, pucuk pucuk muda merica ayahmu
Bergelung di kayu nangka
Orang-orang berkayuh mimpi dikelak rimbunan pohonnya, lalu bertukar janji
Tentang tanah dan wibawa.
Kau berhutang seteguk sara’ba
Saat gelap menyerunda
Dan memarkir sejenak kenang
Pada pala-pala yang memagari kebunnya.

Lahu,
Dari buhul terumbu, angin siulkan rindu harapan itu serupa sulaman teka dan teki yang dengan tekun dijawab oleh sang waktu. Bagaimana menyapa detak di lain tempat
Sementara jarak bertaruh muslihat
Pada sejumlah jeda yang pekat

Secawan ingatan adalah harta
Yang terbagi lewat obrolan-obrolan pengantar tidur
Sepatu-sepatu tua
punya cerita tentang perjalanan
Yang tak pernah disangsikan
Bahkan ketika dilamunkan.
Kita mungkin akan menyungging
Atau mendengus dengan perlahan
Tapi tak pernah menyesali
Akan kisah yang membentuk kita hari ini.

Lahu,
Orang-orang punya cara menghapus duka
Menghindari ataukah berteman dengannya
Kehidupan tetap akan memberimu ruang
Yang lengang untuk pulang
Atau
memilih bertahan dan melanjutkan perjalanan.

“Baginda Ali di depanku”;
Dengan cahaya ilmu tak ada penghalang bagiku

“Abu bakar di kananku”;
Dengan kesetiaan penuh pada tanah sepenuh jiwa memperjuangkan kehidupan.

“Sayyidina Umar di kiriku”;
Dengan keberanian dan ketangguhan
Kuteguhkan niatku

“Usman di belakangku”;
Sesungguhnya segala urusan dunia Dialah Sang Maha, tak ada penghalang kebendaan bagi teguhnya pencarian kesejatian.

“Langit bumi, dunia luar dunia dalam, menghentak Arasy, Barakka laa ilaaha illallah, kun fayakun!”

Ketika mula dan akhir mengukir garis yang bersisian, ketika kehidupan yang didebatkan mengingatkan jenak kematian
Beribu mil berkawan angin

dan luasnya samudera tiada menyangsikan keberanianmu

 

Lahu,
kau hanya perlu tahu.

Aku di sini berjuang bersamamu.

 

Dewi Mudijiwa, 2015. Pugar judul dan aksara Maret 2016

;kelak anak lelakiku beranjaklah dari pangkuanku temui dunia dengan caramu kubekali kau ilmu dan cinta, juga mantera nenekmoyang kita.
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...